Menu

Dark Mode
Pemerintah Gelar Isbat Nikah Terpadu di Penang, 44 Perkara Berhasil Dituntaskan Untuk Persatuan Indonesia, PWI Pusat dan Hotman Paris Sepakat Akhiri Polemik Gebyar Budaya Sunter Jaya Jilid 2 Jadi Pesta Rakyat, Seni Betawi, UMKM dan Santunan Anak Yatim Bersatu Ketua LSM Harimau Penuhi Panggilan Polda Jateng, Klaim Bertindak atas Perintah Pihak Lain Jadi Sorotan Dukungan Mengalir untuk Arifin, Tokoh Masyarakat Jakarta Pusat Minta Kritik Berlandaskan Fakta Bea Cukai Bali Nusra Musnahkan Barang Ilegal Rp11,2 Miliar, Negara Selamatkan Rp4,4 Miliar

Regional

Pelayanan Humanis Jadi Kunci Kepercayaan Masyarakat terhadap Polri

badge-check


					Foto: Rino Ded Aringga.,S.Pd.,M.H
Dosen Universitas Pamulang  Perbesar

Foto: Rino Ded Aringga.,S.Pd.,M.H Dosen Universitas Pamulang 

Opini

Rino Ded Aringga.,S.Pd.,M.H

Universitas Pamulang

Kepercayaan publik merupakan fondasi utama dalam pelaksanaan tugas kepolisian. Tanpa dukungan dan kepercayaan masyarakat, upaya penegakan hukum, pemeliharaan keamanan, hingga pelayanan publik tidak akan berjalan secara maksimal. Oleh sebab itu, membangun kepercayaan masyarakat terhadap institusi Polri tidak cukup hanya melalui slogan, pencitraan, ataupun program seremonial semata, melainkan harus diwujudkan melalui pelayanan yang profesional, transparan, dan benar-benar dirasakan manfaatnya oleh masyarakat.

Di tengah perkembangan zaman yang semakin cepat, masyarakat kini memiliki ekspektasi tinggi terhadap kualitas pelayanan publik. Keterbukaan informasi serta kemajuan teknologi membuat masyarakat semakin kritis dalam menilai kinerja lembaga negara, termasuk Polri. Kondisi tersebut menjadi tantangan sekaligus dorongan bagi institusi kepolisian untuk terus melakukan pembenahan melalui reformasi pelayanan kepolisian yang berkelanjutan.

Dalam beberapa tahun terakhir, Polri telah menghadirkan berbagai inovasi pelayanan berbasis digital. Layanan pembuatan SIM, SKCK, pengaduan masyarakat, hingga akses informasi melalui aplikasi menjadi bentuk adaptasi terhadap kebutuhan masyarakat modern. Kehadiran layanan digital tersebut dinilai mampu mempercepat proses pelayanan, meningkatkan efisiensi, serta memberikan kemudahan bagi masyarakat dalam mengakses pelayanan kepolisian.

Namun demikian, tantangan dalam membangun kepercayaan publik masih tetap ada. Sejumlah kasus pelanggaran etik, penyalahgunaan kewenangan, pelayanan yang belum optimal, hingga lambannya penanganan laporan masyarakat masih menjadi sorotan publik. Di era media sosial saat ini, satu peristiwa dapat dengan cepat membentuk opini publik dan memengaruhi citra institusi secara luas. Karena itu, reformasi pelayanan kepolisian tidak boleh berhenti hanya pada perubahan sistem, tetapi juga harus menyentuh perubahan budaya kerja dan mentalitas pelayanan anggota di lapangan.

Masyarakat pada dasarnya tidak hanya membutuhkan pelayanan yang cepat, tetapi juga pelayanan yang humanis, jujur, adil, dan berintegritas. Sikap serta perilaku anggota kepolisian saat berinteraksi langsung dengan masyarakat sering kali menjadi ukuran utama dalam membentuk penilaian publik terhadap institusi Polri secara keseluruhan. Oleh karena itu, peningkatan profesionalisme anggota Polri harus terus diperkuat melalui pendidikan, pelatihan, serta penanaman etika profesi dan integritas dalam menjalankan tugas.

Selain itu, transparansi dan akuntabilitas pelayanan juga menjadi faktor penting dalam meningkatkan kepercayaan masyarakat. Kepastian prosedur, biaya, waktu pelayanan, hingga perkembangan penanganan perkara harus disampaikan secara terbuka kepada masyarakat. Keterbukaan informasi akan membantu mengurangi kecurigaan publik sekaligus memperkuat rasa percaya terhadap institusi kepolisian.

Pengawasan internal dan evaluasi pelayanan secara konsisten juga perlu diperkuat. Pengawasan bukan semata-mata untuk mencari kesalahan, melainkan memastikan bahwa pelayanan berjalan sesuai aturan dan memenuhi harapan masyarakat. Dalam hal ini, partisipasi masyarakat sebagai bentuk kontrol sosial juga memiliki peran penting dalam mendorong terciptanya pelayanan kepolisian yang lebih baik dan berkualitas.

Pada akhirnya, kepercayaan publik tidak dapat dibangun secara instan. Kepercayaan tumbuh dari pengalaman masyarakat terhadap pelayanan yang mereka terima setiap hari. Ketika masyarakat merasa dilayani dengan baik, diperlakukan secara adil, serta mendapatkan kepastian hukum, maka kepercayaan terhadap institusi Polri akan tumbuh dengan sendirinya. Karena itu, reformasi pelayanan kepolisian harus menjadi komitmen jangka panjang yang dijalankan secara konsisten demi terciptanya Polri yang profesional, modern, dan dipercaya masyarakat.

Lainnya

Arifin: Keberagaman Indonesia Harus Dijaga dari Ancaman Paham Pemecah Bangsa

25 May 2026 - 13:19 WIB

HPN ke-80, Kejari Jaksel Serukan Pers Berimbang dan Bertanggung Jawab

9 February 2026 - 19:01 WIB

Refleksi HPN 2026: Jurnalisme Indonesia Diuji KUHP Baru dan Tekanan Multidimensi

5 January 2026 - 11:37 WIB

Libur Nataru, Kantah Jakarta Barat Tetap Buka Layanan Pertanahan untuk Warga

25 December 2025 - 22:05 WIB

Misa Natal Gagal Digelar di Depok, LBH GEKIRA Sebut Ini Preseden Buruk

24 December 2025 - 14:21 WIB

Trending di Regional