Menu

Dark Mode
Derita Stroke Menahun, Warga Pluit Terima Bantuan Kursi Roda dari Ditpolairud Polda Metro Jaya Aksi Nyata Kavaleri TNI AD: Bansos dan Halalbihal Perkuat Soliditas di Madiun Raya Kejari Jaktim Ikuti Sosialisasi Pedoman Merkuri 2025, Fokus Tata Kelola Barang Bukti RUPST 2026 PT Pembangunan Jaya Ancol Tbk: Kinerja Stabil, Dividen Dibagikan, Transformasi Experience Digenjot Pembatasan Sampah ke Bantar Gebang, Arifin Minta Warga Jakpus Pilah Sampah dari Rumah Di Balik Jas Dokter, Zuhria Rajut Ketenangan Hidup

Nasional

Seorang Anak Berumur 7 Tahun Terjangkit DBD.Satu Kata Untuk Fogging Saat Ini: Lamban!

badge-check


					 Foto : Kekhawatiran warga Kampung Sawah Indah Blok E RT 01/005, Kelurahan Pulogebang, Kecamatan Cakung, Jakarta Timur, memuncak setelah seorang anak berusia tujuh tahun, Mutiara Melani Putri, terjangkit Demam Berdarah Dengue (DBD) dan harus menjalani perawatan intensif di RS Resti.
Perbesar

Foto : Kekhawatiran warga Kampung Sawah Indah Blok E RT 01/005, Kelurahan Pulogebang, Kecamatan Cakung, Jakarta Timur, memuncak setelah seorang anak berusia tujuh tahun, Mutiara Melani Putri, terjangkit Demam Berdarah Dengue (DBD) dan harus menjalani perawatan intensif di RS Resti.

JAKARTA TIMUR – Kekhawatiran warga Kampung Sawah Indah Blok E RT 01/005, Kelurahan Pulogebang, Kecamatan Cakung, Jakarta Timur, memuncak setelah seorang anak berusia tujuh tahun, Mutiara Melani Putri, terjangkit Demam Berdarah Dengue (DBD) dan harus menjalani perawatan intensif di RS Resti.

Kondisi tersebut memicu keresahan di tengah masyarakat yang khawatir penyebaran penyakit akan meluas jika tidak segera dilakukan langkah penanganan cepat.(Minggu,12/04/2026)

Warga menilai, respons dari pihak pemerintah terkait dinilai lamban dalam melakukan tindakan pencegahan, khususnya penyemprotan atau fogging di lingkungan yang terindikasi rawan penyebaran nyamuk Aedes aegypti.

Padahal, menurut warga, laporan mengenai adanya kasus DBD sudah disampaikan agar segera ditindaklanjuti demi mencegah munculnya korban berikutnya. Namun hingga kondisi semakin mengkhawatirkan, tindakan fogging belum juga dilakukan secara resmi.

Merasa keselamatan lingkungan menjadi prioritas, warga akhirnya mengambil langkah tegas dengan melakukan fogging secara mandiri. Inisiatif ini dilakukan secara swadaya, mulai dari pengumpulan dana, penyediaan alat, hingga pelaksanaan penyemprotan di sejumlah titik yang dianggap berpotensi menjadi sarang nyamuk.

Aksi gotong royong tersebut menunjukkan kepedulian tinggi masyarakat terhadap kesehatan lingkungan. Namun di sisi lain, langkah ini juga menjadi kritik terbuka terhadap lambannya penanganan yang seharusnya menjadi tanggung jawab pihak terkait. Warga berharap pemerintah tidak hanya menunggu laporan berulang, tetapi proaktif melakukan pemantauan dan tindakan cepat ketika ada kasus DBD yang muncul.

Menurut sejumlah warga, kondisi lingkungan dengan genangan air di beberapa titik dan cuaca yang tidak menentu semakin meningkatkan risiko berkembangnya nyamuk penyebab DBD. Tanpa tindakan cepat seperti fogging dan edukasi intensif, dikhawatirkan kasus serupa akan kembali terjadi, terutama pada anak-anak yang lebih rentan terhadap penyakit tersebut.

Selain melakukan fogging mandiri, warga juga mengimbau seluruh masyarakat untuk memperketat upaya pencegahan melalui gerakan 3M, yaitu menguras tempat penampungan air, menutup rapat wadah air, serta mengubur atau menyingkirkan barang bekas yang berpotensi menjadi tempat berkembang biaknya nyamuk.

Langkah tersebut dinilai penting sebagai upaya jangka panjang dalam menekan angka penyebaran DBD.

Warga Kampung Sawah Indah berharap kondisi Mutiara Melani Putri segera pulih dan tidak ada lagi korban berikutnya.

Mereka juga mendesak agar pemerintah segera turun tangan secara serius, tidak hanya melakukan fogging, tetapi juga pemeriksaan jentik, sosialisasi kesehatan, serta pengawasan lingkungan secara berkala.

“Keselamatan warga jangan sampai menunggu korban berikutnya. Kami bergerak karena kondisi sudah mendesak,” ungkap salah satu warga.

Peristiwa ini menjadi pengingat bahwa penanganan DBD membutuhkan respons cepat, koordinasi, serta kolaborasi antara masyarakat dan pemerintah. Tanpa langkah sigap, ancaman penyakit yang sebenarnya bisa dicegah ini berpotensi terus berulang dan menimbulkan korban baru.

Reporter : Matyadi

Lainnya

May Day 2026 Memanas, Buruh Jakarta Siapkan Aksi Besar di Monas

12 April 2026 - 22:12 WIB

Haul 220 Syekh Arsyad Al-Banjari Dipadati Ratusan Jamaah di Matraman

12 April 2026 - 14:58 WIB

PJT Lampung Hadiri Halal Bihalal di Jakarta, Tokoh Nasional Serukan Persatuan

12 April 2026 - 14:38 WIB

Libur Lebaran Membludak, 47.070 Pengunjung Serbu Ancol Hingga Sore

22 March 2026 - 18:46 WIB

Ribuan Jamaah Rayakan Idul Fitri di Masjid Apung Ancol, Suasana Pantai Penuh Khidmat

21 March 2026 - 15:48 WIB

Trending di Nasional