Menu

Dark Mode
Dandim Trenggalek Pantau Pra TMMD ke-128, Percepatan Infrastruktur Desa Digenjot Wartawan Sambangi Kopaska Pondok Dayung, Kupas Peran Pasukan Elite TNI AL Kelebihan Bawa Alkohol dari Luar Negeri? Bea Cukai Pastikan Dimusnahkan! Danrem Untoro: Kenaikan Pangkat Adalah Amanah, Bukan Sekadar Penghargaan Momentum Lebaran Dimaksimalkan: Kejari Jakarta Timur dan Wartawan Satukan Langkah Peran Orang Tua, Pengawasan Media Sosial, dan Dukungan Pemerintah, Tips Pengamanan Anak dari Kekerasan Seksual

News

Ramadan Penuh Makna, Napak Tilas Sirnah Gali Ziarah ke Makam Sunan Drajat di Lamongan

badge-check


					Foto: Makam Sunan Drajat, Lamongan, Jawa Timur. (Dok-istimewa) Perbesar

Foto: Makam Sunan Drajat, Lamongan, Jawa Timur. (Dok-istimewa)

LAMONGAN – Semangat mengisi bulan suci Ramadan dengan kegiatan penuh nilai sejarah dan spiritual dilakukan keluarga besar Napak Tilas Sirnah Gali melalui kunjungan religi ke makam Sunan Drajat di Desa Banjar Anyar, Kecamatan Paciran, Kabupaten Lamongan, Jawa Timur, pada Minggu (22/2/2026).

Kegiatan yang berlangsung di kompleks makam bersejarah tersebut menjadi bagian dari upaya mengenang sekaligus meneladani perjuangan dakwah salah satu tokoh Wali Songo dalam menyebarkan ajaran Islam di tanah Jawa. Lokasi ini dikenal luas sebagai destinasi ziarah nasional yang hampir tak pernah sepi peziarah, terutama saat Ramadan.

Sunan Drajat, atau Raden Qosim, merupakan putra dari Sunan Ampel dan Nyai Ageng Manila. Lahir di Surabaya pada 1470, ia kemudian memilih Paciran sebagai pusat penyebaran Islam. Di wilayah tersebut, beliau mendirikan musholla dan pesantren sebagai sarana pendidikan agama bagi masyarakat dan para santri.

Pada 1484 M, Raden Patah menganugerahkan gelar “Sunan Mayang Madu” serta menghadiahkan sebidang tanah sebagai bentuk dukungan atas kiprah dakwahnya. Selain mengajarkan ilmu agama, Sunan Drajat juga aktif menggerakkan kaum bangsawan dan masyarakat mampu untuk menunaikan zakat dan sedekah sesuai tuntunan syariat.

Metode dakwahnya dikenal adaptif dan membumi. Ia memanfaatkan seni sebagai media penyebaran ajaran Islam, termasuk menciptakan tembang pangkur dan mengembangkan gamelan sebagai sarana dakwah kultural. Pendekatan ini menjadikan Islam lebih mudah diterima oleh masyarakat setempat kala itu.

Dalam rangkaian kunjungan tersebut, tim Religi Napak Tilas Sirnah Gali menggelar doa bersama di area makam. Doa dipanjatkan untuk memohon keberkahan Ramadan serta sebagai komitmen menjaga warisan perjuangan para Waliyullah dalam membangun peradaban Islam di Nusantara.

Kegiatan ini tidak hanya menjadi perjalanan sejarah, tetapi juga momentum memperkuat keimanan, mempererat kebersamaan, serta meneguhkan semangat meneladani nilai-nilai dakwah yang penuh kearifan dan kepedulian sosial sebagaimana dicontohkan Sunan Drajat.

Reporter : Matyadi

Editor : Matyadi

Lainnya

Halalbihalal PWI Jaya Diserbu Anggota, Kebersamaan Kian Solid

30 March 2026 - 19:04 WIB

Kehadiran Aparat di Kiwirok Berubah, Warga Rasakan Pendekatan Lebih Humanis

30 March 2026 - 13:12 WIB

Kuliner Lamongan di Sentul Diserbu, Sambel Bu’De Wong Ndeso Bikin Ketagihan

26 March 2026 - 20:40 WIB

Pantau Libur Lebaran dan Arus Balik di Bali, Kapolri: Pelayanan Terbaik untuk Masyarakat

24 March 2026 - 16:52 WIB

Momen Haru! Keluarga Besar Muhammad–Nuriah Kumpul Akbar di Rawamangun

21 March 2026 - 09:28 WIB

Trending di Nasional